Wednesday, November 21, 2018

Iklan Banner Atas

Dipolisikan, Mafia Tiongkok Rugikan Pariwisata Bali

Rate this item
(0 votes)

DENPASAR, JAVANEWSONLINE.COM, SELASA (30/10/2018): ANCAMAN anggota DPRD Bali, Nyoman Tirtawan kepada jaringan mafia Tiongkok yang rugikan pariwisata Bali ternyara bukan gertak sambal. Anggota DPRD Bali dari dapil Buleleng itu benar-benar melaporkan ulah para mafia ke Polda Bali.

Dalam laporan bernomor 01-LAPDU/X/2018 tertanggal 29 Oktober 2018, Tirtawan bertindak sebagai anggota DPRD Bali sekaligus Ketua Dewan Pembina LSM FPMK. "Saya melaporkan adanya praktik mafia Tiongkok yang merugikan pariwisata Bali. Juga melaporkan Bali Tourism Board (BTB) yang melindungi aktivitas mafia Tiongkok karena telah membuat beberapa kesepakatan," lontar Tirtawan serius.

Laporan tersebut khusus diperuntukkan untuk Kapolda Bali Irjen Petrus Golose. Dalam laporannya, Tirtawan menyebut adanya dugaan tindak pidana di wilayah Bali. Dalam surat itu, Bali sebagai destinasi pariwisata sangat bergantung dengan keamanan, dan kenyamanan wisatawan.

Karena itu, nama Bali mesti dijaga nama baiknya dimata dunia. Untuk itu diharapkan Polda Bali bisa melakukan penyelidikan, terkait adanya tindak pidana, oleh pelaku wisata dan oknum warga Tiongkok di Bali. "Dugaan pidana dalam kasus ini adalah penggunaan lambang Burung Garuda di stempel took jaringan mafia Tiongkok," ungkapnya

Selain itu, seperti dilansir Bisniswisata.co.id, mereka mempekerjakan tenaga kerja asing secara illegal. Tirtawan menegaskan, tidak ada alasan bagi Polda mendiamkan kasus ini. Harus segera diproses. Terutama mendalami jaringan mafia Tiongkok yang merusak pariwsata Bali.
“Bagaimana lambang Negara dilecehkan, bagaimana sampai Ketua BTB membuat kesepakatan dengan jaringan mafia itu. Mesti diusut,” tegasnya.

Kejengkelan Tirtawan bersumber praktik pemasaran “zero dollar tour” yang lahir sejak kedatangan turis China berwisata ke Bali. Memang jumlah turis Tiongkok terus melonjak. Lonjakan itu membuahkan penjualan paket wisata melalui agen perjalanan wisata di negara China dengan harga sangat murah.

Harga paketnya disinyalir hanya senilai biaya tiket perjalanan Denpasar-China. Sekilas, ini terlihat sangat menguntungkan wisatawan yang membeli paket wisata. Kenyataannya selama di Pulau Dewata, Turis Negeri Panda ini diwajibkan mengikuti jadwal tur yang ditetapkan oleh agen wisata China.

Agen wisata itu, menerapkan praktek monopoli. Wisatawan dibawa berbelanja di tempat-tempat yang telah ditentukan. Tempat berbelanja sudah terafiliasi dengan agen wisata yang menawarkan paket “zero dollar tour”. Harga barang-barang yang ditawarkan jauh lebih tinggi, dengan metode pembayaran non tunai.

Padahal praktek monopoli yang dilakukan Mafia Tiongkok ini menyebabkan wisatawan mengalami kerugian. Bahkan, destinasi wisata dan negara dikunjungi juga sama menderitanya. Di paket ini, semua tak ada yang dapat untung. Semua gigit jari sebab semua transaksi terhubung secara non tunai menggunakan aplikasi dari China (MUS)

Read 23 times