Iklan Banner Atas

Greenpeace: Ada 797 Merek Sampah Plastik di Pantai Indonesia

Rate this item
(0 votes)

JAKARTA, JAVANEWSONLINE.COM, SENIN (08/10/2018):  PANTAI di Indonesia kian menyedihkan. Selain pemandangan yang indah, juga pemandangan sampah plastik tersebar dimana-mana. Lebih menyedihkan lagi, sampah plastik itu dibawa dan dibuang para wisatawan yang berwisata menikmati panorama pantai. Kesadaran wisatawan ini sangat rendah menjaga kebersihan pantai. Dan selalu berpikiran bahwa alam yang akan menyapu sampah plastik itu.

Hasil temuan Greenpeace Indonesia bersama sejumlah komunitas kebersihan pantai ternyata sebanyak 797 merek sampah plastik di tiga pantai di tiga wilayah Indonesia. Audit merek sampah plastik tersebut dilakukan pada pertengahan September 2018 di tiga lokasi: Pantai Kuk Cituis (Tangerang Banten), Pantai Pandansari (Yogyakarta), dan Pantai Mertasari (Bali).

"Ada 797 merek dari sampah plastik yang kami temukan dari tiga lokasi, di mana yang terbesar adalah merek-merek makanan dan minuman (594 merek), kemudian merek-merek perawatan tubuh (90), kebutuhan rumah tangga (86), dan lainnya (27)," kata Juru Kampanye Urban Greenpeace Indonesia, Muharram Atha Rasyadi, seperti dikutip Bisniswisata.co.id, Senin (08/10/2018).

Selain itu, ujar dia, Greenpeace menemukan banyak sampah plastik yang tidak terlihat lagi mereknya. "Ini mengindikasikan sampah tersebut sudah lama terbuang dan berada di lingkungan tersebut," jelas Atha.

Dipaparkan, secara global hanya 9 persen sampah plastik yang didaur ulang dan 12 persen dibakar. Dengan kata lain, 79 persen sisanya berakhir di tempat-tempat pembuangan maupun saluran-saluran air seperti sungai yang bermuara ke lautan.

Sebelumnya, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menyatakan produktivitas sektor perikanan berpotensi untuk terus menurun akibat semakin banyaknya sampah plastik masuk ke kawasan perairan nasional.

"Produktivitas perikanan dapat menurun dan implikasi dari mikroplastik bisa masuk ke jejaring makanan yang akhirnya dapat menimbulkan masalah pada kesehatan manusia," kata Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Pendayagunaan Pesisir dan Pulau-pulau Kecil, Moh. Abduh Nurdihajat.

Dia memaparkan, menjelang penyelenggaraan Our Ocean Conference (OOC) 2018, KKP juga menggelar Gerakan Bersih Pantai dan Laut seperti di Pantai Pede, Labuan Bajo, Manggarai Barat, pada Rabu pekan lalu (3/10/2018).

Kegiatan bersih pantai tersebut dilakukan dengan mengumpulkan sampah-sampah di pesisir pantai, terutama sampah plastik untuk kemudian ditimbang. Dalam kegiatan tersebut, lebih dari 1 ton sampah terkumpul, yakni tepatnya 1.007,54 kg. Sampah-sampah tersebut selanjutnya akan dikirim ke tempat pengolahan sampah di Manggarai Barat. "

Sampah plastik telah menjadi ancaman yang serius. Tak hanya sampah yang berasal dari daratan Labuan Bajo, tapi juga sampah dari pelayaran laut dan yang terbawa arus serta dari pulau-pulau kecil sekitar Pulau Komodo," ujar Abduh.

Ditambahkan, jika sampah plastik ini tidak dikendalikan atau dikelola dengan baik, maka terjadi proses pelapukan menjadi mikro dan nano plastik yang akan merusak ekosistem pesisir dan dimakan oleh plankton serta ikan.

Mengingat pencemaran laut sebagian besar disebabkan oleh ulah manusia, maka diperlukan upaya bersama seluruh masyarakat dan pemangku kepentingan di tingkat pusat dan daerah untuk melakukan pengendaliannya. "Upaya bersama menyelamatkan potensi pesisir dan laut dari ancaman pencemaran terutama sampah laut harus dilakukan secara terus menerus dan berkelanjutan," sambungnya. (BWO)

Read 18 times