Iklan Banner Atas

Profil Tokoh 29

Written by Juni 05 2016 0

JAVANEWSONLINE.COM - Menyambut Ramadhan, banyak orang berziarah kubur. Pada awalnya, ziarah kubur dilarang, karena masih terdapat unsur-unsur yang merupakan tradisi Jahiliyah. Ketika unsur-unsur tersebut masih ada, larangan tetap berlaku.

Unsur tersebut misalnya dalam bentuk meratap (niyahah). Meratap itu dilarang dalam agama. Maka Rasulullah mengatakan,”Kuntu nahaytukum ‘an ziyaratil qubur ala tazuruha – Dahulu aku melarang kalian ziarah kubur (karena memang ada hal-hal yang mengarah kepada syirik), sekarang ini ziarahlah kalian.”

Mengapa kemudian diperintahkan? “Liannaha tudzakkirul maut – Karena ziarah kubur itu bisa mengingatkan kalian akan mati.” Jadi, ziarah kubur itu dianjurkan, bahkan diperintahkan.

Pertanyaannya, apakah itu berlaku untuk semua? Bolehkah kaum wanita berziarah kubur? Karena kaum wanita termasuk dalam kelompok orang yang kurang bisa menahan emosinya, kurang bisa menahan rasa kasihannya kepada yang lebih mendahuluinya mati, mereka dilarang berziarah kubur. Kecuali kalau bisa menahan emosi, mereka diperbolehkan.

Alasan kedua wanita tidak diperbolehkan berlama-lama di kubur, sebab dikhawatirkan akan menimbulkan fitnah. Siti Aisyah RA diriwayatkan selalu menziarahi saudaranya yang bernama Abdurrahman. Ketika ditegur oleh sahabat lainnya, “Mengapa engkau ziarahi dia, sementara wanita itu dilarang menziarahi kubur?”, Siti Aisyah menjawab, “Ya, dulu memang Rasulullah melarang ziarah itu, tapi sekarang sudah tidak dilarang lagi.” Maksud “tidak dilarang lagi” adalah ketika wanita bisa menjaga diri dari hal-hal yang bisa menimbulkan fitnah.

Maka ketika mau berziarah, diaturlah agar rapi pakaiannya, tidak mengundang tatapan pihak lain, sehingga bisa mengalihkan perhatian orang lain itu. Wanita yang berziarah juga tidak boleh menggunakan pakaian-pakaian yang ketat, yang menggambarkan bentuktubuhnya. Juga dilarang memakai warna yang mencolok. Yang dianjurkan adalah pa- kaian warna gelap atau hitam.

Jika wanita ikut berziarah, harus dipisahkan tempatnya. Tidak boleh bercampur antara pria dan wanita. Sekali lagi, untuk mencegah timbulnya fitnah.

Dalam ziarah ini, ada tata cara yang diatur oleh agama yaitu: Pertama, ketika kita berziarah, yang pertama kali kita ucapkan adalah salam. Kepada Nabi, kita ucapkan salam Assalamu alayka ayyuhan nabiyyu warahmatullahi wabarakatuh… (dan seterusnya dengan berbagai variasi doa ziarah yang ada). Kemudian mendoakan si mayit. Doa yang biasa kita baca di antaranya adalah Rabbanaghfirlana wali ikhwaninalladzma sabaquna bil-iman, wala taj’al fi qulubina ghillal-lilladzina amanu, rabbana, innaka raufur-rahim.

Amalan lainnya adalah bacaan Al- Qur’an, misalnya membaca surah Ya-Sin, surah Al-Fatihah, atau yang lainnya.

Dalam hal ini, ada tiga perkara yang disepakati, yaitu dijamin pahalanya sampai kepada yang bersangkutan. Ketiganya adalah doa, permohonan ampun, dan pelunasan utang-piutang.

Mengenai yang lainnya, seperti membaca Al-Qur’an, tahlil, dan dzikir, ada perdebatan. Kelompok pertama diwakili oleh golongan Mu’tazilah dan madzhab Abu Hanifah, yang mengatakan bahwa apa yang dilakukan selain tiga pekara itu tadi tidak sampai dan tidak akan memberi manfaat kepada yang meninggal dunia.

Alasan pertama, ayat 39-41 surah An-Najm, yang artinya, “Dan bahwasanya seorang manusia tidak memperoleh selain apa yang telah diusahakannya, dan bahwasanya usaha itu kelak akan diperlihatkan (kepadanya). Kemudian akan diberi balasan kepadanya dengan balasan yang paling sempuma.” Mereka memahami dari ayat ini bahwa amal dan usaha orang lain yang disampaikan untuk orang yang sudah meninggal itu tidak sampai kepadanya.

Alasan kedua adalah hadits riwayat Imam Muslim, yaitu Idza matabnu ada-ma inqatha’a ‘amaluhu illa min tsalatsin, shadaqatin jariyatin aw ‘ilmin yuntafa’u bihi aw waladin shalihin yad’u lah. “Apabila manusia meninggal, putuslah seluruh amal perbuatannya kecuali tiga perkara: shadaqah jariyah, ilmu yang pernah disampaikannya dan dimanfaatkan oleh orang lain, dan anak yang shalih yang senantiasa mendoakannya.”

Sedangkan amalan yang lain tidak sampai. Mereka yang menggunakan hadits ini secara tekstual memahami bahwa apa yang kita lakukan dalam bentuk membaca Al-Qur’an, yakni Ya-Sin, tahlil, dan lainnya, tidak sampai kepada orang yang meninggal.

Kelompok kedua adalah kelompok madzhab Maliki, madzhab Hanbali, dan kebanyakan dari madzhab Syafi’i. Mereka mengatakan, usaha orang yang masih hidup ketika diniatkan kepada orang yang sudah meninggal dunia, pahalanya itu sampai kepada orang yang dituju.

Mengenai ayat di atas, mereka menjawab bahwa memang manusia itu tidak mendapatkan sesuatu kecuali dari hasil usahanya, tapi tidak tertutup kemungkinan usaha orang lain bisa juga sampai kepadanya.

Mereka mengambil beberapa contoh. Ada sahabat yang pernah datang menghadap Rasulullah yang mengadukan bahwa orangtuanya sudah udzur. Orangtuanya itu mempunyai nadzar untuk melaksanakan ibadah haji tapi ternyata ia tidak mampu melakukan. Kemudian Rasulullah ditanya, “Apakah aku bisa mengerjakan haji untuknya?”

Rasulullah kemudian bertanya, “Kalau sekiranya orangtuamu itu punya utang-piutang, siapa yang akan melunasinya?”

Dia menjawab, “Ya saya, sebagai anaknya.”

Rasulullah berkata, “Utang kepada Allah itu lebih berhak untuk dilunasi.”

Begitu juga kasus seorang wanita yang mendatangi Rasulullah dan mengatakan bahwa ibunya pada tahun sebelumnya berkeinginan untuk bertiaji pada tahun itu (tahun saat wanita itu menghadap Rasulullah) tapi ia meninggal sebelum melaksanakan ibadah haji- nya. Bisakah digantikan? Ternyata di- jawab dengan jawaban yang sama.

Karena itulah, salah seorang tokoh dari madzhab Hanbali, Syaikhul Islam ibnu Taimiyah (meninggal dunia tahun 728 H/1327 M), mengatakan, “Barang siapa berpendapat bahwa amalan orang yang masih hidup ketika ia niatkan untuk orang yang sudah meninggal dunia tidak bermanfaat atau tidak sampai pahalanya, pendapatnya menyalahi kesepakatan para ulama.”

Tata cara ziarah yang kedua, apabila yang kita ziarahi itu orang-orang yang shalih atau para wali, itu lebih dianjurkan. Dengan tujuan, agar kita dapat mengambil pelajaran darl ziarah itu. Menurut Imam Ghazali, di situ ada i’tibar-nya (pelajaran) dan juga ada keberkahannya. Keberkahan itu berhubungan dengan tawassul. Apakah kita bisa minta dari kubur atau tidak, itu permasalahannya. Kalau kita meminta kepada kubur, itu yang tidak boleh, karena berarti sudah melakukan perbuatan syirik. Namun kita menjadikan ahli kubur dari para wali atau orang-orang shalih itu sebagai sarana saja, kita tetap meminta kepada Allah. Tapi karena kita adalah manusia yang penuh dosa, banyak kesalahan, banyak melakukan pelanggaran, permintaan itu tidak langsung kepada Allah. Jadi permintaan itu melalui tawassul tersebut.

Oleh: Prof. Dr. Said Agil Husin AI-Munawar

Written by Mei 23 2016 7

JAKARTA, JAVANEWSONLINE.COM, SENIN (23/05/2016): KEPALA Divisi Humas Mabes Polri, Boy Rafli Amar yang sebelumnya berpangkat Brigadir Jenderal kini resmi naik pangkat menjadi Inspektur Jenderal (Irjen). Kenaikan jabatan itu dilakukan dalam upacara korp Raport kenaikan pangkat yang dipimpin langsung oleh Kapolri Jenderal Badrodin Haiti, Senin (23/5).

Pantauan Republika, selain Boy ada sembilan lain yang juga mendapat kenaikan pangkat yakni Komjen Nur Ali menjabat sebagai Kabaintelkam, Irjen Agung Budi Maryoto sebagai Kakorlantas Pori, Brigjen Agung Setija sebagai Direktur Tindak Pidana Ekonomi Khusus Bareskrim Polri, dan Brigjen Nana Sujana sebagai Wakapolda Jawa Barat.

Selanjutnya Brigjen Priyo Widijanto sebagai Karobinkar SSDM Mabes Polri, Brigjen Jendmard Mangoloi Simatupang sebagai Irwil IV Itwasum Polri, dan Irjen Bambang Waskito sebagai Widyaiswara Utama Irwasum Polri. Kemudian ada Irjen M Taufik sebagai Widyaiswara Utama Irwasum Polri dan Irjen Muhammad Hazan Amrozo sebagai Kapusskinas Bareskrim Polri.

"Kenaikan pangkat wajar dalam tubuh Polri," ujar Badrodin yang memimpin langsung jalanya upacara Korps Raport di Mabes Polri, Jakarta Selatan, Senin (23/5). (IPE)

Written by Mei 21 2016 0

JAKARTA, JAVANEWSONLINE.COM, SABTU (21/05/2016): KEPALA Kantor Staf Kepresidenan Teten Masduki mengatakan, Presiden Joko Widodo (Jokowi) dinobatkan sebagai Tokoh Inspiratif Asia 2016 dalam kesempatan kunjungan ke Korea Selatan beberapa hari lalu.

"Di Korea, Presiden menerima 'award' dari Asosiasi Jurnalis Asia sebagai tokoh yang menginspirasi Asia 2016," katanya dalam konferensi pers di ruang VVIP Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta, Sabtu (21/5).

Ia menyebutkan proses penilaiannya sudah dilakukan pada April 2016 dan baru resmi diserahkan saat kunjungan ke negara itu beberapa hari lalu.

Teten menyebutkan dalam kunjungannya ke Republik Korea, Presiden Jokowi juga berdialog dengan masyarakat Korea terutama mereka yang sedang mencari tokoh Asia yang memiliki kepemimpinan dan menginspirasi anak-anak muda.

Menurut dia, dalam kunjungannya ke Korea itu, Pemerintah Kota Seoul juga menobatkan Presiden Jokowi sebagai warga kehormatan kota itu. "Selain bertemu dengan Presiden Republik Korea Park Geun-hye, Presiden Jokowi juga bertemu dengan sejumlah politisi di negara itu," katanya.

Presiden Jokowi juga bertemu dengan Gubernur Seoul dan beberapa gubernur lain di negara itu serta masyarakat Indonesia di Korea Selatan. (fah)

Written by Mei 17 2016 0

JAVANEWSONLINE.COM - Sejarah Bekasi dimulai dari sang pelopor dibentuknya “Panitia Amanat Rakyat Bekasi” oleh enam orang tokoh berjasa pendirian Kabupaten Bekasi yakni, KH. Noer Alie, Mayor Madnuin Hasibuan, R.Supardi, Namin, Aminudin dan Marzuki Urmaini.

Dalam catatan sejarah, nama “Bekasi” memiliki arti dan nilai sejarah yang khas. Menurut Poerbatjaraka, seorang ahli bahasa Sansekerta dan Jawa Kuno – Asal mula kata Bekasi, secara filosofis, berasal  dari kata Chandrabhaga. Chandra berarti “bulan” (dalam bahasa Jawa Kuno, sama  dengan kata Sasi) dan Bhaga berarti “bagian”. Jadi, secara etimologis kata  Chandrabhaga  berarti  bagian dari bulan.

Kata Chandrabhaga berubah menjadi  Bhagasasi  yang pengucapannya  sering disingkat  menjadi  Bhagasi. Kata Bhagasi ini dalam pelafalan bahasa Belanda seringkali ditulis  “Bacassie” kemudian berubah menjadi  Bekasi  hingga kini.

Bekasi dikenal sebagai “Bumi Patriot”, yakni sebuah daerah yang dijaga oleh para pembela tanah air. Mereka berjuang disini sampai titik darah penghabisan untuk mempertahankan negeri tercinta dan merebut kemerdekaan dari tangan penjajah. Ballada kepahlawanan tersebut tertulis dengan jelas dalam setiap bait guratan puisi heroik Pujangga Besar Chairil Anwar yang berjudul “Krawang – Bekasi”.

Panitia Amanat Rakyat Bekasi

Dari masa ke masa Kabupaten Bekasi telah banyak terjadi perubahan yang tahun 2016 ini usianya telah 66 tahun.

Sejarah terbentuknya Kabupaten Bekasi dimulai dengan dibentuknya “Panitia Amanat Rakyat Bekasi” yang dipelopori KH. Noer Alie, Mayor Madnuin Hasibuan, R.Supardi, Namin, Aminudin dan Marzuki Urmaini, yang menentang keberadaan RIS – Pasundan dan menuntut berdirinya kembali Negara Kesatuan RI.

Selanjutnya diadakan Rapat Raksasa di Alun-alun Bekasi yang dihadiri oleh sekitar 40.000 orang rakyat Bekasi pada tanggal 17 Pebruari 1950. Menyampaikan tuntutan Rakyat Bekasi yang berbunyi :

(1) Penyerahan  kekuasaan Pemerintah Federal kepada Republik Indonesia,

(2) Pengembalian seluruh Jawa Barat kepada Negara Republik Indonesia,

(3) Tidak mengakui lagi adanya  pemerintahan di daerah Bekasi, selain Pemerintahan Republik Indonesia,

(4) Menuntut kepada Pemerintah agar nama

Kabupaten Jatinegara diganti menjadi Kabupaten Bekasi. Upaya para pemimpin Panitia Amanat Rakyat Bekasi untuk memperoleh dukungan dari berbagai pihak terus dilakukan.

Diantaranya mendekati  para pemimpin Masjumi, tokoh militer Mayor Lukas Kustaryo dan Moh. Moefreini Mukmin) di Jakarta.

Pengajuan usul dilakukan tiga kali antara bulan Pebruari sampai dengan bulan Juni 1950 hingga akhirnya setelah dibicarakan dengan DPR RIS, dan Mohammad Hatta menyetujuim penggantian nama  “Kabupaten Jatinegara”  menjadi  “Kabupaten Bekasi  “.

Persetujuan pembentukan Kabupaten Bekasi semakin kuat setelah dikeluarkannya Undang-Undang No.14 Tahun 1950. Kabupaten Bekasi secara resmi dibentuk dan ditetapkan tanggal 15 Agustus 1950 sebagai Hari Jadi Kabupaten Bekasi.

Selanjutnya pada tanggal 2 April 1960 Pusat Pemda Bekasi semula dipusatkan di Jatinegara (sekarang Markas Kodim 0505 Jayakarta, Jakarta) dipindahkan ke gedung baru Mustika Pura Kantor Pemda Bekasi yang terletak diBekasi Kaum JI. Jr. H. Juanda.[Pbk]

Written by Mei 16 2016 0

JAVANEWSONLINE.COM – Ketua Komisi A DPRD Provinsi Jawa Barat, H Syahrir,SE, yang tidak diragukan kiprahnya diberbagai bidang sosial dan politik cukup di kenal masyarakat Jawa Barat (Jabar) diminta pulang kampung untuk memimpin  Sumatera Utara (Sumut).

Syahrir selalu turun ke daerah pemilihannya (dapil) di Kabupaten Bekasi semakin menjadikan dia tokoh muda yang penuh harapan masyarakat.

“Dimanapun kita berada harus bisa berkiprah dan beguna bagi masyarakat. Meski saya asli anak Medan, tapi karena keberadaan saya sudah di Jawa Barat tentu lebih banyak berkiprah disini (Jabar),” kata Syahrir di Bekasi, Minggu (15/5/2016).

Anggota DPRD Jabar dua periode itu menyatakan, tidak mudah bagi orang perantauan bisa diterima dan didukung oleh msyarakat didaerah lain. Tapi dengan tekad dan pergaulan yang baik, masyarakat manapun bisa menerima sepenuh hati.

Pulang Kampung

Berkat kiprahnya selama ini di Jabar, Ketua Presidium Forum Masyarakat Sumatera Utara (Formasu) Jakarta, Syafruddin,ST, sejak tahun lalu sudah melirik Wakil Ketua DPD Partai Gerindra Jabar itu untuk “pulang kampung” memimpin Sumut.

“Politisi itu dimanapun harus siap untuk memangku amanah rakyat. Saya awalnya terkejut mengetauhi pemberitaan oleh Formasu Jakarta memuat nama saya sebagai salah satu tokoh muda untuk memimpin Sumut. Tentu saja saya sangat tersanjung,” kata Syahrir.

Tersanjung dimaksudkan Syahrir bukanlah ‘sombong’ melainkan sepak terjangnya selama di Jabar benar-benar diketauhi oleh masyarakat Sumut.

Walau demikian, alumni SMA Khalsa Medan dan Ketua Perhimpunan Ikatan Alumni (PIA) SMPN 6/7 Medan, Syahrir tetap memiliki kepedulian tinggi terhadap Kota Medan apalagi orangtua dan saudaranya tetap tinggal di Medan.

Seperti bakti sosial yang ia lakukan bersama kawan-kawannya yang tergabung dalam Perhimpunan Ikatan Alumni (PIA) SMPN 6/7 Medan, pada saat Medan dilanda banjir melakukan baksos membantu anak-anak korban banjir di bantaran Sungai Mencirin Medan pada bulan Pebuari lalu.

“Kita harus peka dan memiliki kepedulian tinggi. Meski saya di Jawa Barat tapi Medan adalah kota sekaligus kampung halaman. Itulah yang menggerakan saya untuk membantu korban banjir pada bulan Pebuari,” ucapnya yang kerap memiliki kepedulian tinggi dalam membantu masyarakat dapilnya di Kabupaten Bekasi.

Puncak ketokohannya Syahrir terukir pada saat perayaan Hari Kartini, bapak tiga putri dan dua putra itu tak menduga dianugerahi sebagai Tokoh Indoensia 2016. Syahrir didaulat sebagai tokoh penerima “Parliament Award” oleh Yayasan Penghargaan Indonesia di Bali pada 22 April 2016.

“Saya tidak pernah menyangka mendapat Parliament Award. Saya sangat berterimakasih atas penghargaan tersebut, Ini mendorong saya menjadi lebih baik lagi kedepan untuk berkiprah dan berguna bagi masyarakat,” tutup Syharir.(Dli)

Written by Mei 09 2016 1

JAVANEWSONLINE.COM - Beberapa waktu lalu di bulan April,  banyak dari kita dikagetkan dengan simposium yang dihadiri anak cucu dan keluarga Partai Komunis Indonesia, di Jakarta, yang dilakukan dalam simposium 2 hari tentang "tragedi 65", yang diketuai Gubernur Lemhanas, Letjen (Purn) Agus wijoyo.

Dalam pertemuan kaum komunis lainnya, banyak kita dikagetkan juga dengan gerakan wanitanya (Gerwani), melayangkan pemikiran untuk menghancurkan monumen Lubang Buaya, sebuah Simbol yang selama ini dianggap monumen kekejaman Komunis, yang tapi menurut mereka adalah pemalsuan sejarah.

Mengapa kita kaget?

Pertama, sejak isu rekonsiliasi paska Soeharto, baru saat ini pemerintah serius melakukan agenda aksi bagi kepentingan rekonsiliasi thd PKI.  Padahal, rekonsiliasi terhadap pemberontak separatis Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dan separatis Papua, sudah dilakukan.

Kedua, setelah 50 tahun Partai Komunis Indonesia (PKI) dan ajaran komunis hilang dari Nusantara, tiba-tiba muncul menjadi wacana sentral di masyarakat.

Ketiga, sebagai sesama anak bangsa, kita bingung mengakhiri situasi permusuhan, baik alami maupun yang direkayasa, terhadap kaum komunis dan keturunannya.

Meski penuh kekagetan, sebenarnya kepentingan rekonsiliasi ini penting untuk kita lakukan:

Pertama, puluhan juta kaum komunis Indonesia telah menderita selama 50 tahun, sejak berdirinya Orde Fasis Soeharto. Setengah abad merupakan waktu yang terlalu lama.

Kedua, tidak ada dosa sejarah dalam Islam, agama mayoritas di sini. Seandainya klaim sepihak orde baru bahwa PKI lah yang mendahului politik kekerasan dalam sejarah 65, maka dosa PKI masa itu tidak otomatis dibebankan kepada masa anak cucunya.

Ketiga, rekonsiliasi merupakan kehendak bangsa Indonesia sebagai simbol keluar dari rezim otoritarian Orde baru.

Keempat, puluhan juta rakyat komunis merupakan potensial "block vote" dalam pemilu dan pilpres, yang selalu ditunggangi bagi ambisi2 elit yang berkuasa.

Kelima, kaum komunis ini merupakan manusia yang punya hak hidup sebagai manusia dan punya hak sejarah, karena mereka bagian dari sejarah kemerdekaan bangsa Indonesia.

Komunis, Non Komunis dan Pengkhianatan Bangsa

Komunis alias PKI sebagai pengkhianat bangsa sudah 50 tahun mengiang ditelinga kita. Komunis dianggap menyelewengkan ideologi Pancasila dan ingin menggantinya dengan ideologi komunis jika berkuasa.

Dua pemberontakan untuk merebut kekuasaan dilakukan komunis tahun 48 dan tahun 65. Sejak 65, rezim militer Suharto menyatakan PKI dan ajaran komunis sebagai ajaran terlarang. Bersamaan dengan itu, klaim pihak komunis, 800 ribu komunis dan simpatisannya dibunuh, dipenjara, diperkosa, didiskriminasikan, dan lain sebagainya.

Sayangnya, di masa orde baru, sejarah yang ada sifatnya satu versi, yakni versi penguasa saja.padahal sejarah hanya akan dimengerti jika asa versi lain yang memberi komparasi yang cukup untuk masuk pada kesimpulan yang benar.

Ketidak mungkinan mendapatkan versi lain dalam masa Orde Baru karena, pertama, siapapun yang berbeda versi dan menyiarkannya, maka mereka akan diberikan stempel komunis yang akan berakibat penjara. Kedua, struktur informasi dan perolehan informasi sangat piramidal. Belum ada dunia internet seperti saat ini.

Alhasil, sejauh ini, hanya satu versi kejadian 65 yang ada. Apakah PKI dan Komunis sebagai pengkhianat bangsa, atau Orde Baru yang berkhianat, membutuhkan suatu pemunculan sejarah 65 versi lain, yang terbuka untuk dikaji oleh tokoh-tokoh bangsa kita.

Namun, penting kita mencatat bahwa PKI dan kaum komunis tidak melakukan pengkhianatan sejak tahun 65. Selama 50 tahun, sejak Orde Baru dan rezim Reformasi, justru Bangsa ini telah dikhianati rezim penguasanya untuk 3 hal berikut:

1. UUD45 telah dirubah menjadi "UUD 2002", tanpa referendum. Khususnya, pasal 6 UUD45, yang menyatakan Presiden dan Wakil presiden harus orang Indonesia Asli, dirubah demi ambisi2 elit orde reformasi.

2. Sila ke 4 Pancasila yang berasaskan Musyawarah untuk Mufakat, telah digantikan dengan sistem demokrasi super liberal.

3. Ekonomi Indonesia dikuasai 10% para kapitalis dan sistem perekonomian berasaskan kekeluargaan dihancurkan

Dari segi pengkhianatan terhadap bangsa ini, justru kita perlu mempertimbangkan kelompok masyarakat mana yang lebih kejam?

Menatap Masa Depan

Wisdom bangsa kita sebagai bangsa beragama, memaafkan adalah lebih mulia. Tuntutan kaum komunis terhadap negara adalah sah. Baik tuntutan langsung terhadap mereka yang merasa dilanggar haknya, maupun klaim mereka bahwa yang mereka maksud adalah korban yang tidak bersalah.

Sejauh apa tuntutan itu dapat dipenuhi? Tentu sangat tergantung versi sejarah yang akan disetujui nantinya. Selain itu, juga mempertimbangkan dialektika politik kekuasaan yang ada.

Apa dialektika politik yang dimaksud?

Pertama, apakah bangsa kita akan mempunyai rencana besar ideologis menyatukan seluruh elemen bangsa sebagai kekuatan bersama untuk bangkit?

Pertanyaan ini dijiwai di Afrika Selatan di masa Nelson Mandela. Jika ya, maka, pemerintah harus sungguh2 menghentikan politik permusuhan terhadap kekuatan kekuatan ideologis, baik terhadap kalangan kiri, maupun kalangan Islam. Perangkulan kaum komunis harus dilakukan bersamaan dengan pembubaran densus 88, dan sejenisnya

Kedua, apakah cita cita internasional kaum komunis untuk melakukan _land_ _reform_ (membagi tanah2 yang dikuasai kapitalis secara tidak benar) atau reformasi kapital, untuk rakyat jelata, yang sejatinya sesuai dengan sosialisme Pancasila, menjadi agenda utama rezim kekuasaan Jokowi? Jika iya, maka makna kehadiran kembali kaum komunis sangat berharga. Welcome On Board Kamerad!

Oleh: Dr.Syahganda Nainggolan [Asian Institute for Information and Development Studies]

Written by Februari 09 2016 177

JAKARTA,  JAVANEWSONLINE.COM, SELASA (09/02/2016): Jumlah pendaftar calon anggota Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas), grafiknya terus meningkat. Peningkatan terjadi menjelang penutupan seleksi anggota Kompolnas dalam kepengurusan periode 2016-2020, yang ditutup 12 Februari 2016.

Halaman 3 dari 5