Iklan Banner Atas

Puthul Kuliner Ekstrem Gunungkidul, Mau Coba?

Rate this item
(0 votes)

GUNUNGKIDUL, JAVANEWSONLINE.COM, SABTU (24/11/2018): GUNUNGKIDUL DI Yogyakarta bukan hanya dikenal dengan panorama keindahan objek wisata. Namun, juga mempunyai daftar kuliner ekstrem. Selain belalang, jangkrik, kepompong dan kelelawar, ada satu lagi makanan ekstrem musiman yang layak dicoba, yakni puthul.

Puthul merupakan hewan sejenis kumbang yang muncul di awal musim penghujan, dan sudah menjadi makanan alternatif. Hewan yang biasa muncul di malam hari dan di dedaunan pohon pisang diburu warga. Diburu lantaran dianggap hama bagi masyarakat Gunungkidul sehinga diburu untuk dijual maupun dikonsumsi pribadi menjadi makanan untuk lauk.

Puthul sering muncul pada sore hari menjelang malam karena waktu itu puthul keluar dari sarangnya untuk mencari makanan. Meski dipandang menjijikkan oleh sebagian orang, namun rasa puthul ini tidak kalah dengan belalang. Bahkan, lebih empuk dan menjadi lebih nikmat jika disajikan dengan bumbu bacem goreng.

Suharni, salah satu warga di desa Ngawu, Kecamatan Playen menuturkan, dirinya setiap habis maghrib berusaha berburu puthul. Setiap satu kilogram, dia masak dan dijual dengan harga Rp60 ribu. "Mencarinya juga mudah. Hanya saja munculnya di awal musim hujan saja. Nanti hilang juga," lontar Suharni seperti dilansir laman Bisniswisata.co.id, Sabtu (24/11/2018).

Dengan munculnya puthul, kata Suharni, dirinya bisa meraup keuntungan yang lumayan besar. "Saya pernah jual sampai dua kilogram. Kadang satu kilogram," ungkapnya sambil menambahkan setiap kali berburu puthul, dirinya menghabiskan waktu sekitar dua hingga tiga jam. Hasil berburu puthul ini tidak hanya dijual oleh Suharni, namun juga untuk lauk yang disantap bersama tiga anak laki-lakinya.

Sumaryanto (27) warga dusun Pengos, Desa Giring, Paliyan mengakui saat memasuki musim penghujan dirinya bersama warga lainnya mencari puthul. Untuk mendapatkan putul sangat mudah. Dalam kurun waktu satu jam dapat mengumpulkan banyak puthul. Saat mencari dirinya hanya menggunakan alat sederhana yaitu berupa botol plastik bekas air mineral, dan satu buah lampu senter untuk penerangan.

"Saat puthul keluar tinggal diambil saja biasanya puthul berada di pohon pisang, kalau kesulitan biasanya pohon digoyangkan agar puthul terjatuh dan tinggal memasukkan kedalam botol," paparnya.

Sekali pencarian bisa mendapatkan puthul satu penuh botol air mineral berukuran 1,5 liter. "Ya saat mudah dicari ya bisa satu hingga tiga botol air mineral puthulnya, kalau pas sulit tidak sampai satu botol air mineral puthulnya," katanya sambil menambahkan selain dikonsumsi puthul juga mempunyai nilai ekonomi sendiri dimata warga Gunungkidul, satu botol penuh bisa dijual seharga Rp 40 ribu.

Pengamat pertanian di Gunungkidul, Supriyadi menerangkan, puthul merupakan hama yang mengganggu tanaman pertanian. Hewan ini ketika masih menjadi larva sering menyerang akar tanaman padi yang disebut uret. Puthul memiliki nama latin Phyllophaga Hellery, merupakan famili Scarabaeidae, sub famili Melolonthinae dari Ordo Coleoptera.

"Puthul akan bertelur di dalam tanah. Lalu menetas menjadi uret bersamaan dengan perkembangan padi. Uret berkembang baik yaitu di tempat yang banyak mengandung bahan organik. Setelah itu, uret masuk ke dalam tanah, dan lamanya uret di dalam tanah sekitar 4-6 bulan. Lalu muncullah puthul," ucapnya. (BW)


Read 16 times