Sunday, October 21, 2018

Iklan Banner Atas

Lodho, Legenda Kuliner Tulungagung

Rate this item
(0 votes)

TULUNGAGUNG, JAVANEWSONLINE.COM, SENIN (17/09/2018): LODHO diartikan sebagai ayam berusia muda, dara atau remaja. Tidak tua dan tidak terlalu belia. Ada juga yang menyebut kemanggang. Diimajinasikan sebagai ayam remaja yang sudah waktunya untuk dipanggang. Tesaurus Bahasa Indonesia menuliskan lodoh (bukan lodho), yakni keadaan yang terlalu empuk, berlebihan matang, atau mblenyek (bahasa Jawa).

Berangkat dari terminologi itu, Suparti, pedagang sayur ayam lodho Desa Sukoanyar, Tulungagung, Jawa Timur, tidak pernah main-main memilih ayam. Selalu ayam yang sudah lodho (remaja) yang dia pilih. “Kalau ayam tua dagingnya alot. Kalau kemudaan merah, tidak menarik dilihat. Karena lodho, tentu harus ayam yang lodho,” tutur Suparti seperti dilansir laman Bisniswisata.co.id, Senin (17/09/2018).

Nyatanya daging ayam lodho bikinan Suparti memang empuk. Sedikit saja dikulik dengan jepitan ibu jari dan telunjuk, daging langsung tersuwir lepas. Begitu juga dengan tulang persendian antara sayap dan paha bawah. Kriuk renyahnya terasa lebih lunak. Untuk melumat habis seolah tidak perlu lagi peran gigi taring.

“Dan semuanya dari jenis ayam kampung,” kata Suparti. Untuk kuah lodho yang berwarna ku ning kental, Suparti menggunakan santan kelapa dan seruas kunyit. Pada por si tertentu dibutuhkan takaran santan encer 500 ml yang dicampur 250 ml santan kental.

Rajangan bawang merah, bawang putih, cabai rawit, butir an merica, ketumbar, jintan, dan garam menjadi fondasi rasa. Khusus cabai, Su parti menghabiskan 20 kg sekali masak. Untuk berdiri sebagai satu kesatuan bumbu, semua bahan dilumat.

Agar lebih sedap dicemplungkan juga jahe, lengkuas, kencur yang dimemarkan, daun jeruk, daun salam, serta batang serai. Selain menyedapkan, persekutuan kondimen itu juga memperkuat aroma harum kuah. “Semuanya ditumbuk manual. Tidak ada yang diblender,” kata Suparmi menjelaskan. Lalu bagaimana memasak ayamnya? Sebelum direndam ke dalam adonan bumbu, ayam dibakar sampai matang.

Pembakaran menggunakan tungku tradisional dengan api yang berasal dari cangkang atau batok kelapa. Adapun rendaman bumbu dengan api kecil yang terus-menerus menyala akan memaksimalkan resapan bumbu ke dalam daging ayam. “Dengan batok kelapa, panas api lebih awet,” ungkapnya. Sudah 15 tahun Suparti melakoni hidup sebagai pedagang ayam lodho. Sedikitnya 13 orang warga sekitar turut membantunya.

Di antara sekian banyak pedagang lodho di wilayah Tulungagung, nama lodho ayam Lestari Sukoanyar Pakel cukup melegenda. Pelanggannya dari berbagai lapisan sosial. Mulai pembeli biasa hingga para pejabat luar kota.

Selain empuk dan enak, lodho ayam bikinan Suparti juga terkenal superpedas. Tentu para penghobi kuliner pedas sangat menyukainya. Mes ki buka setiap hari pu kul 08.00- 16.00 WIB, ayam kampung yang dihabis kan rata-rata 150-200 ekor.

Setiap porsi lodho, yakni satu ekor ayam utuh lengkap dengan sebakul nasi gurih serta urap-urap, Suparti mematok harga Rp175.000. Tentu tidak mahal untuk sebuah masakan dengan cita rasa yang mampu memuaskan lidah.

Kendati demikian, perempuan dengan 5 anak 10 cucu itu juga melayani pembelian dengan porsi lebih kecil. “Semua kami layani. Harga termurah Rp20.000, yakni seporsi dengan hanya potongan sayap atau paha ayam,” pungkas Suparti.  (BIS)









Read 13 times