Wednesday, November 21, 2018

Iklan Banner Atas

Selundupkan Sabu 1,03 Ton, 8 Warga Taiwan Dituntut Mati

Rate this item
(0 votes)

BATAM, JAVANEWSONLINE.COM, RABU (31/10/2018): EMPAT terdakwa narkotika asal Taiwan yakni Chen Chung Nan, Chen Chin Tun, Huang Ching An dan Hsieh Lai Fu dituntut dengan hukuman mati dalam persidangan yang digelar di Pengadilan Negeri Batam, Kepulauan Riau (Kepri) Selasa (30/10/2018) siang. Keempatnya dinyatakan terbukti bersalah usai menyelundupkan narkotika jenis sabu seberat 1,03 ton.

Keempat terdakwa dinyatakan terbukti bersalah berdasarkan fakta-fakta persidangan. Tim Jaksa Penuntut Umum (JPU) dalam amar tuntutan mengungkapkan bahwa tuntutan tersebut telah sesuai dengan keterangan saksi-saksi sebanyak total 18 orang dan melihat barang bukti yang dihadirkan ke persidangan berupa 1.019 bungkus plastik narkotika jenis sabu.

Tak hanya itu, tim JPU juga mempertimbangkan beberapa hal sebagai hal yang memberatkan yakni perbuatan para terdakwa membuat nama Indonesia buruk di mata dunia Internasional. "Karena perbuatan para terdakwa, Indonesia dinilai sebagai tempat peredaran narkotika dan para terdakwa tidak mengakui perbuatannya," kata Albina Dita Prawira, Ketua Tim JPU.

Kendati JPU mempertimbangkan hal yang memberatkan, namun tidak ada satupun hal yang menjadi pertimbangan JPU sebagai hal yang meringkankan. "Menuntut, menjatuhkan hukuman kepada terdakwa dengan hukuman mati," tegas Dita di hadapan majelis hakim Muhammad Chandra, Redite Ika Septina dan Yona Lamerosa.

Tuntutan tersebut dirasa sangat berat oleh penasehat hukum para terdakwa, M. Herdian Saksono Z dari Saksono dan Suyadi Law Firm. Ia menilai bahwa banyak fakta hukum yang dilewatkan oleh tim JPU.

"Klien saya ditangkap tanggal 7, dan barang bukti ditemukan tanggal 9 di dermaga, lalu penetapan barang bukti tanggal 12. Awal penangkapan mereka hanya masalah kelengkapan surat yang sudah expired tapi kemudian ditemukan barang bukti. Dan kalau memang klien saya mau dihukum mati, kenapa tidak ditembak mati saja di tengah laut. Kenapa harus melewati proses persidangan ini," ujarnya.

Herdian mengaku, pembelaan yang dilakukannya terhadap keempat terdakwa yang merupakan WN Taiwan bukan karena dirinya tidak mencintai negaranya sendiri, Indonesia. Namun, ia menilai bahwa perkara ini harus dilihat secara logika. "Klien saya ditangkap di luar wilayah Indonesia dan kapal tidak mengarah ke Indonesia. Hukum teritori Indonesia tidak bisa dilakukan di sini," kata Herdian.

Pernyataan Herdian disambut oleh Dita. Menurutnya, pernyataan Herdian merupakan suatu hal yang sah-sah saja disampaikan mengingat Herdian adalah tim penasehat hukum para terdakwa. "Tapi fakta-fakta persidangan kan sudah jelas. Silahkan saja mau bicara seperti itu, itu haknya," ujar Dita.

Tak hanya Chen Chung Nan, Chen Chin Tun, Huang Ching An dan Hsieh Lai Fu, keempat terdakwa lainnya asal Tiongkok yakni Chen Hui (42), Chen Yi (32), Chen Meisheng (68) dan Yao Yin Fa (63) juga dituntut dengan hukuman yang sama. Tim JPU yang diketuai oleh Daru TS memiliki pertimbangan yang sama yakni perbuatan para terdakwa yang terdiri dari ayah, anak, sepupu dan tetangga imi telah mencoreng nama Indonesia di mata dunia Internasional.

"Seperti diuraikan dalam tuntutan, kita sudah dalam tingkat darurat narkotika yang cukup parah. Selain itu, volume penangkapan, luar biasa. Kita bisa melihat, satu gram sabu saja dapat membunuh banyak generasi kita. Jadi kita bisa bayangkan, berat sekali tanggungjawab yang kita pikul. Dan, para terdakwa tidak sedikitpun merasa bersalah dam tidak mengakui perbuatannya serta berdelik," ujarnya saat ditemui awak media usai persidangan.

Sementara itu, dari pantauan Okezone, para terdakwa tampak murung sebelum persidangan dimulai. Bahkan, terdakwa Chen Chin Tun dan Hsieh Lai Fu menangis usai mendengarkan tuntutan yang diterjemahkan oleh penerjemah. "Chen Chin Tun mengaku sedih dengan tuntutan hukuman tersebut," ujar penerjemah menyampaikan pesan dari Chen Chin Tun.

Berbeda dengan Chen Chin Tun, terdakwa Chen Meisheng asal Tiongkok tampak marah-marah usai persidangan. Sesaat sidang ditutup dengan tanda ketok palu majelis hakim, ia marah-marah dalam bahasa Tiongkok. Kasus ini telah direkayasa polisi dan ia telah dibohongi oleh aparat penegak hukum Indonesia. "Dia bilang kalau kasus ini direkayasa polisi. Dia juga bilang, orang Indonesia mencurangi orang Cina," kata penerjemah bahasa. (PAH)



Read 27 times