Iklan Banner Atas

Suap PN Jakpus: Bos Lippo Eddy Kabur, Advokat Lucas Jadi Tersangka

Rate this item
(0 votes)

JAKARTA, JAVANEWSONLINE.COM, SELASA (02/10/2018): KPK menetapkan advokat Lucas sebagai tersangka merintangi penyidikan dugaan kasus suap mantan bos Lippo Group Eddy Sindoro, Senin (1/10/2018). "KPK meningkatkan status penanganan perkara ke penyidikan sejalan dengan penetapan LCS (Lucas) sebagai tersangka," ujar Wakil Ketua KPK, Saut Situmorang di Jakarta Selatan, Selasa (2/10/2018).

KPK, lanjut dia, berulang kali mengingatkan kepada semua pihak untuk menghormati proses hukum yang sedang berlangsung, tidak melakukan tindakan yang menghalang-halangi penyidikan satu perkara.

Penetapan tersangka ini didasarkan perkembangan penyidikan lembaga antirasuah yang menemukan bukti permulaan yang cukup adanya dugaan Lucas dengan sengaja mencegah atau merintangi penyidikan dugaan suap Eddy Sindoro.

Lucas, kata Saut, diduga kuat turut andil membantu Eddy Sindoro yang telah berada di Indonesia untuk mangkir dari penyidikan usai penetapannya sebagai tersangka. Saat ini Eddy diketahui kembali dibantu kabur ke luar negeri. "LCS berperan untuk tidak memasukkan ESI ke wilayah yuridiksi Indonesia, tapi dikeluarkan keluar negeri," ucap Saut.

Lantas bagaimana perjalanan perkara ini menjerat Eddy? Adapun kasus ini sudah bergulir sejak tahun 2016. Eddy sudah ditetapkan sebagai tersangka bulan Desember 2016. Ia merupakan tersangka dalam kasus suap panitera Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Edy Nasution.

Edy Nasution diketahui menerima uang suap dari Doddy Ariyanto Supeno sebesar Rp100 juta pada April 2015 yang diserahkan di parkiran sebuah hotel di Jalan Kramat Raya, Jakarta.

Dari uang suap itu terbongkar adanya jual-beli perkara yang selama ini berjalan di Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Pusat. Berdasarkan fakta di persidangan, uang suap berjumlah total Rp 1,5 miliar yang diketahui dari adanya pengeluaran PT Paramount Enterprise.

Uang suap itu ditujukan untuk mengakomodasi permintaan revisi redaksional jawaban dari PN Jakpus menolak pengajuan eksekusi lanjutan Raad Van Justice Nomor 232/1937 tanggal 12 Juli 1940. Uang Rp100 juta disita KPK saat operasi tangap tangan (OTT) terkait pengurusan penundaan aanmaning atas putusan arbitrase di Singapura melalui Singapore International Arbitration Sentre (SIAC) Nomor 178/2010.

Sementara, Bos Lippo Group Eddy Sindoro diduga terkait penyuapan dalam pengurusan sejumlah perkara beberapa perusahaan di bawah Lippo Group, yang ditangani di PN Jakarta Pusat. Meski demikian, hingga saat ini Eddy belum pernah diperiksa oleh penyidik KPK. Ia selalu mangkir dalam setiap jadwal pemeriksaan yang diagendakan.

Petinggi Lippo Eddy Sindoro ini, ditetapkan sebagai tersangka oleh sejak 23 Desember 2016. Dia diduga memberikan suap kepada Edy Nasution agar peninjauan kembali (PK) yang dia ajukan diterima. Hingga saat ini keberadaan Eddy belum diketahui. (END)





Read 30 times