Iklan Banner Atas

Prostitusi ABG Rok Biru di Jakarta Barat Kian Marak

Rate this item
(1 Vote)

JAKARTA, JAVANEWSONLINE.COM, SENIN (30/01/2017): SEORANG gadis remaja tengah asyik melahap burger di sebuah restoran cepat saji kawasan Jakarta Barat. Seorang pria lalu menghampiri mejanya. Sedikit basa-basi, mereka lalu terlibat dalam percakapan. Jarum jam menunjukkan angka tujuh, matahari baru terbenam.

"Besok harus masuk sekolah, enggak bisa sampai tengah malam," ujar D (bukan nama sebenarnya), gadis kelas 2 Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri Jakarta Barat. "Jadi cuma sampai jam 10?" tanya lelaki itu.

D, satu dari sekian banyak gadis remaja yang masih belum punya Kartu Tanda Penduduk (KTP) di Jakarta Barat. Ia tengah negosiasi dengan seorang pria. "400 aja," kata D.

Lelaki dan D meninggalkan restoran cepat saji. Mereka menaiki mobil menuju kawasan Tanah Abang. Di seberang Stasiun, sebuah bangunan panjang dengan lampu remang-remang menunggu. Mobil yang ditumpangi D berhenti di depannya. "Di sini aja," kata lelaki yang berusia sekitar 30 tahunan itu pada D.

Mereka memasuki gedung itu, setelah mobil diparkirkan. D yang memakai kaus tanpa lengan dengan warna merah muda bergegas masuk ke dalam gedung, di atas gedung sebuah papan nama dihiasi lampu. Hotel, tulis papan nama itu. "Yang AC atau biasa, AC 150, biasa 35.000," ujar seorang pria menawarkan layanan kamar.

Tak jelas kamar mana yang mereka pilih. D dan lelaki itu menaiki tangga, menuju sebuah kamar sewaan. Selang beberapa jam setelahnya, lelaki itu keluar dengan senyum merekah. Lalu disusul oleh D. Lelaki itu kembali memasuki mobil, mengantar D ke restoran cepat saji.

Esok paginya, D masuk sekolah, belajar di kelas. Di dalam tasnya beberapa lembar uang kertas nominal tertinggi di Republik ini tersimpan rapi di antara buku pelajarannya. D, dapat tambahan jajan, dari lelaki semalam.

Usai jam pelajaran, D asyik dengan telepon genggamnya. Sebuah pesan masuk, "Malam ini bisa enggak?". Tulis pesan itu di layar smartphone-nya. D pun asyik membalas pesan itu.

Lain pula si A, gadis belia kelas 1 SMP tengah bercengkrama dengan seorang perempuan bermake-up di samping sebuah mobil. Perempuan itu membuka pintu mobilnya, A masuk dan duduk. Tak jelas apa yang mereka bicarakan. Namun, mobil itu terus melaju menuju kawasan Taman Sari.

Mobil Honda Jazz itu berhenti di sebuah hotel di kawasan Taman Sari. A yang tadinya memakai rok berwarna biru, keluar dari mobil dengan celana jeans pendek. "Tadi dipinjami kakak," kata A soal celana jeans pendek dan baju seksinya.

A masuk hotel, perempuan yang mengantarkannnya menunggu di sebuah kafe, tak jauh dari hotel. Pelan-pelan matahari mulai turun ke arah barat. Setelah azan asar, A keluar hotel. Perempuan itu bergegas menjemputnya.

A dihantarkan ke sebuah halte. Bajunya kembali berganti, rok biru dan baju putih. A tak terlihat senang. Wajahnya muram, sepanjang jalan ia menunduk. Lama tak bicara, A akhirnya menjawab dan mengajak makan.

"Tadi kakak minta 500, tapi enggak apa-apa, kata Om, kalau rajin ke tempat dia, nanti enggak usah lewat kakak lagi," lanjut gadis remaja berkulit kuning langsat.

A menghabiskan makanannya, dia mengeluarkan lembaran ratusan ribu dari tasnya membayar tagihan kafe.

A pulang, perempuan yang dipanggilnya kakak mengamati dari kejauhan. Perempuan itu, jadi perantara A dan om-om yang memberinya Jajan.

A, D dan belasan gadis remaja dari berbagai SMP di kawasan Jakarta Barat asyik dalam pelukan berbagai lelaki. Mereka dapat bayaran, dari lembaran uang hingga transferan.

Jumat 27 Januari 2017 malam, sebuah pesan masuk tentang pemberitahuan dari anggota Polisi. Polsek Taman Sari menangkap seorang muncikari perempuan. Ia menjadi perantara pria hidung belang dengan anak di bawah umur.

Dua siswi disuruh melayani kebutuhan pria hidung belang. Dengan bayaran satu juta. Si muncikari meminta uang Rp 300.000 dari bayaran yang diberikan pria tua itu.

Satu dari dua anak sekolah dijadikannya PSK (pekerja seks komersil), dari penyelidikan polisi siswi yang dia jadikan pemuas napsu itu tercatat sebagai anak murid berprestasi di sekolahnya. Tak tanggung-tanggung, siswi itu juara satu selalu.

"Pengakuan korban DA yang merupakan murid dengan prestasi lumayan bagus, dilihat dari nilai rapornya," ujar Kanit Reskrim Polsek Taman Sari Kompol Bintoro.

Bintoro mengatakan korban nekat menjadi PSK karena terdesak kebutuhan ekonomi keluarganya yang kurang mampu. "Menurut korban, dia mau melakukan hal tersebut dikarenakan untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari," tambah Bintoro.

Korban sendiri mengaku telah melayani pria hidung belang selama 4 kali melalui mucikari berinisial WP. "Tentunya ini sangat disayangkan, anak di bawah umur dan masih sekolah seperti ini sudah melakukan tindakan yang sepatutnya tidak dilakukan," kata Kapolsek Tamansari AKBP Nasriadi secara terpisah.

"Untuk korban, kami kembalikan ke orang tuanya untuk dilakukan pembinaan," ujar Nasriadi.

Mendadak, sehari setelah penangkapan muncikari itu, nomor telepon dua gadis belia A dan D tak bisa lagi dihubungi.
(LEO)








Read 1914 times