Iklan Banner Atas

Disayangkan, SBY Diamkan Ulah Andi Arief Tebar Hoaks

Rate this item
(0 votes)


JAKARTA, JAVANEWSONLINE.COM, KAMIS (10/01/2019): ELEKTABILITAS Partai Demokrat diperkirakan terus merosot, jika Ketua Umum Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) tidak mengambil sikap tegas atas perbuatan Wasekjen Andi Arief, yang dinilai kontraproduktif karena membuat kegaduhan publik dengan sejumlah isu kontroversial menjelang Pilpres 2019.

"Kegaduan terkait hoaks 7 kontainer surat suara tercoblos, via akun Twitternya kemudian dihapus sendiri, ataupun pernyataannya mengancam akan memboikot Pilpres 2019. Bahkan melaporkan politisi lainnya yang dituding membalikan fakta, padahal perbuatan Andi Arie sendiri. Sikap itu jelas merugikan Partai Demokrat," papar pengamat politik dari Forum Masyarakat Peduli Parlemen Indonesia (Formappi) Lucius Karus.

Seharusnya, lanjut dia dalam keterangan tertulis, Kamis (10/1) sebagai pimpinan tertinggi partai, Pak SBY bisa mengklarifikasi cuitan tersebut karena ada upaya untuk mendeligitimasi penyelenggara pemilu, yaitu KPU (Komisi Pemilihan Umum). "Apalagi cuitan itu dilakukan berkali-kali,” ujar Lucius.

Dilanjutkan, Andi Arief pernah akan memboikot pilpres 2019 meski belum jelas alasannya. Jika memboikot, berarti Partai Demokrat akan menggagalkan ribuan calegnya di seluruh Indonesia yang sudah siap mengikuti kontestasi di pileg 2019.

Kenapa? “Pilpres saat ini berbeda dengan pilpres sebelumnya. Apa yang dilakukan oleh Andi Arief kontraproduktif dengan Partai Demokrat sebagai peserta pemilu, juga dengan SBY yang selalu mengedepankan etika dan kesantunan dalam politik,” ujarnya.

Untuk itulah, lanjut Lucius, SBY perlu menjelaskan kepada masyarakat. Jika tidak, elektabilitas Partai Demokrat bisa terancam. Apalagi di masa kampanye ini semua partai harus mencitrakan positif dan baik, agar mendapat simpati dan dipilih rakyat. “Jika SBY membiarkan itu, Demokrat yang dirugikan.”

Lucius mengaku belum mengerti jika ada strategi politik rahasia SBY dengan terus mendiamkan sikap Andi Arief yang kontraproduktif dan sengaja mencari panggung untuk mengangkat citra Demokrat yang tidak mendapat simpati lagi.

Disinggung apakah SBY panik karena khawatir tak lolos masuk DPR? “Saya tidak tahu. Yang jelas, semua partai dan kedua capres masih sama-sama punya kesempatan untuk mendapat tempat di hati rakyat. Semua berpeluang untuk dipilih, terpilih, dan memenangi kontestasi pemilu itu,” jawabnya.

Pengamat politik dari Universitas Padjajaran Idil Akbar pun mengemukakan hal senada dengan Lucius bahwa perilaku Andi Arief bisa menjadi bumerang bagi partainya. "Sikap Andi Arief yang bermusuhan terbuka dengan sejumlah pihak termasuk KPU, kontraproduktif bagi Demokrat maupun SBY selaku ketua umum sekaligus ikon partai," ungkap Idil dalam keterangan tertulis, Kamis (10/1).

Seperti Lucius, Idil  juga mengemukakan bahwa sikap dan pernyataan Andi cenderung berpretensi mendelegitimasi KPU untuk dinilai sebagai lembaga partisan dan tidak independen.

Menurut dia, publik belum tentu sependapat dengan Andi Arief, bahkan bukan tidak mungkin malah hilang simpati. "Malah bisa jadi justru akan menjadi bumerang bagi masa depan politik Partai Demokrat. Tidak bijak bila SBY mendiamkan hal itu.”

Permusuhan Andi Arief dengan sejumlah pihak termasuk komisioner KPU berawal dari cuitannya di Twitter terkait dengan isu tujuh kontainer yang berisi surat suara yang sudah tercoblos yang kemudian dinyatakan sebagai hoaks oleh KPU.

Andi Arief menolak dituding turut menyebarkan hoaks itu karena dia merasa justru mengingatkan KPU untuk mengecek kabar itu agar tidak menjadi fitnah. Dia pun melaporkan sejumlah pihak ke polisi dengan tuduhan pencemaran nama baik. (IPH)

Dalam cuitannya, Andi juga menyatakan telah melapor ke SBY dan siap diberi sanksi. Namun, menurut dia, SBY hanya menanggapi dengan senyum. "Saya sudah melaporkan soal kriminalisasi pada diri saya ke Pak @SBYudhoyono. Saya bersedia disanksi jika dianggap tidak disiplin. Beliau tersenyum," tulis Andi dalam cuitannya.

Read 44 times Last modified on Januari 10 2019