Iklan Banner Atas

Malpraltik, RS MH THamrin Salemba Dipolisikan

Rate this item
(1 Vote)

JAKARTA , JAVANEWSONLINE.COM, KAMIS (08/09/2016):   NASIB menyedihkan menimpa Rusti Hutapea Spd. Mpd.   Kepala Sekretariat Panwasli (Panitia Pengawas Pemilihan) Kabupaten Toba Samosir, Sumatra Utara (Sumut) saat berdinas di Jakarta, malah menjalani operasi sampai tiga kali. Hanya gara-gara sakit perut, dokter RS MH  Thamrin Salemba Jakarta Pusat memvonis usus buntu dan harus dioperasi. Lucunya dokter yang mengoperasi, dokter tua berusia 72 tahun dan tak punya ijin praktek.

"Kasus malpraktik ini kami laporkan ke Polda Metro Jaya. Hari ini, saya diperiksa lagi sebagai saksi korban. Ada lebih dari 30 pertanyaan yang diajukan penyidik, dan ini pemeriksaan kedua kalinya," ungkap Rusti Hutapea kepada wartawan usai menjalani pemeriksaan di Renata Reskrimum Polda Metro Jaya Jakarta, Kamis (08/09/2016).

PNS Pemkab Toba Samosir menjelaskan, pada 29 Februari 2016, dia mendapat tugas menghadiri Bawaslu Award di Jakarta. Malam hari, perutnya terasa tidak enak, mual  dan pusing berat. Rusti - pemegang BPJS pergi ke RS Cikini namun disarankan ke rumah sakit terdekat yakni MH Thamrin Salemba. Setelah diperiksa dokter di UGD, dinyatakan menderita usus buntu dan disarankan agar segera dioperasi.

Saran pun dijalani. Pada 2 Maret,  rencana operasi dilakukan jam 9 malam karena dokter bedah, Munandar Martawarda belum datang. Akhrinya Tengah malam, Rusti menjalani operasi yang menjalani bius lokal. Sekitar pukul 03.00 WIB dinihari, Rusti merasakan badannya sakit semua dan menggigil. Setelah keluarganya melaporkan, ternyata mendapat jawaban enteng pengaruh obat bius yang habis. Keesokanya, kondisinya bertambah parah.

"Setelah melakukan operasi bukannya membaik malah semakin parah. Keadaan saya semakin sakit dan seperti ada jarumnya ditubuh saya, dan sakit rasanya. Keluarga saya sempat meminta pertanggung jawaban kepada pihak RS Thamrin. Namun, tidak ada itikad baik, tidak ada solusi lain juga dokter tidak datang.  Malah diperlakukan seperti tidak manusia. Saya tidak bisa bergerak tetapi dipaksa untuk rongen tiga posisi," ungkap Rustin didampingi adiknya Jisman Hutapea .

Setelah didesak keluarganya, akhirnya RS MH Thamrin memutuskan operasi kedua kalinya. Ternyata operasi bukan solusi, kondisi kesehatan malah memburuk. Lebih parah lagi, saat masuk ICU tak ada perhatian dari perawat maupun dokter jaga. Terbukti infus habis tidak diganti, meminta dipanggilkan keluarganya tidak ditanggapi, akhirnya pihak keluarga meminta pindah ke rumah sakit Preimer Jatinegara.

Dan memasuki ruang isolasi khusus selama 16 hari di ICU untuk proses penyembuhan karena mengalami infeksi berat atau disespsis sampai pemeriksaan kultur darah. Tanggal 24 April 2016, pindah ke RSPAD Gatot Soebroto, pasca penyembuhan infeksi dan luka operasi. Tanggal 15 Juni 2016, operasi ketiga kalinya dilakukan kembali untuk penyempurnaan akibat kesalahan pada operasi yang pertama.

Karena tak ada niat baik dari RS MH Thamrin, Rusti bersama suaminya Rensus Sillahi didampingi pengacara Manotar Tampubolan SH, MA, MH dan kawan-kawan melaporkan kasus malpraktik ini ke sentra pelayanan kepolisian terpadu(SPKT), Polda Metro Jaya dengan nomor polisi Nopol TBL/3855/VIII/2016/PMJ/Ditreskrimum tertanggal 12 Agustus 2016 dengan tuduhan melanggar Pasal 360 dan Pasal 361 KUHP tentang kelalaian yang mengakibatkan orang lain luka. (FAH)

Read 2096 times