Wednesday, November 21, 2018

Iklan Banner Atas

Kapolda Banten: Jangan Terpancing Pembakaran Bendera Tauhid

Rate this item
(0 votes)

SERANG, JAVANEWSONLINE.COM, RABU (24/10/2018): INSIDEN pembakaran bendera bertuliskan tauhid yang terjadi pada peringatan Hari Santri Nasional (HSN) di Kabupaten Garut, Jawa Barat, Senin (22/10/2018) kemarin, memicu polemik.

Kapolda Banten, Brigjen Pol Teddy Minahasa Putra berharap masyarakat Banten tidak terpancing dengan masalah yang terjadi di Kabupaten Garut tersebut. Jenderal bintang satu ini meminta seluruh elemen masyarakat ikut membantu mendinginkan suasana serta menjaga agar suasana tetap aman dan damai sehingga ukhuwah islamiah dan persaudaraan di kalangan umat serta bangsa tetap terjaga dan terpelihara.

“Jadi kita harus tetap menjaga kondusifitas, utamanya di Banten. Hati-hati dalam menerima Informasi, harus lebih teliti, jangan sampai salah terima informasi, nanti malah terprovokasi,” ujar Kapolda Banten kepada wartawan.

Dilanjutkan, Polres Garut sudah menjelaskan sesungguhnya bendera yang dibakar oleh anggota Banser itu adalah bendera Hizbut Tahrir Indonesia (HTI). “Sudah ada penjelasan dari Polres Garut bahwa yang dibakar oleh anggota Banser adalah bendera HTI,” kata Brigjen Pol Teddy Minahasa Putra.

Kapolda Banten menjelaskan, saat peringatan Hari Santri Nasional, semua yang ada di lokasi dari berbagai elemen itu awalnya telah sepakat bahwa tidak ada bendera-bendera ormas atau simbol apapun yang dikibarkan pada saat acara, kecuali bendera merah putih, tetapi ada yang mengibarkan bendera HTI.

“Jadi, hati-hati jangan salah paham, itu murni bendera HTI yang dibakar, bendera ormas yang telah dilarang di Negara Indonesia ini. Sekali lagi saya ucapkan, yang dibakar itu murni bendera HTI,” tegas mantan ajudan Wapres Yusuf Kalla ini.

Seperti diketahui, tersebar video beberapa oknum anggota berseragam Banser Ansor NU di Garut yang membakar bendera HTI. GP Ansor membenarkan kejadian di video tersebut. Mereka beralasan pembakaran untuk menjaga kalimat tauhid karena selama ini digunakan organisasi terlarang Hizbut Tahrir Indonesia. (PKO)

Read 118 times